About

Jumat, 07 Oktober 2016

#SIP Perngertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

Sistem menurut Jogianto (dalam Hutahean, 2014) adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejaidan-kejadian dan kesatuan yang nyata adalah objek nyata, seperti tempat, benda, dan orang-orang yang betul-betul ada dan terjadi. Informasi (Hutahean, 2014) adalah data yang diolah dalam bentuk yang lebih berguna dan berarti bagi penerimaannya. Sumber informasi adalah data. Data kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang terjadi pada saat tertentu.
Sistem informasi  (Hutahean, 2014) adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang dibutuhkan.
Sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang dimaksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.
Dalam pandangan psikologi kognitif, otak merupakan pusat pengolahan informasi. Informasi yang diperoleh dari pengalaman hidup sehari-hari yang ditangkap oleh penginderaan. Hasil informasi dikirim melalui jaringan saraf tertentu ke susunan saraf pusat otak. Dalam susunan saraf pusat ini berbagai informasi diolah dan hasil pengolahan informasi tersebut menghasilkan pemahaman tentang suatu pengalaman (Satiadarma dan Zahra, 2004). 
 Komponen Sistem Informasi
Stair (dalam Al Fatta, 2007) menjelaskan bahwa sistem  informasi berbasis komputer dalam suatu organisasi terdiri dari komponen-komponen berikut:
1.      Perangkat keras
Yaitu perangkat keras komponen untuk melengkapi kegiatan memasukan data, memproses data, dan keluaran data.
2.      Perangkat lunak
Yaitu program dan instruksi yang diberikan ke komputer.
3.      Database
Yaitu kumpulan data dan informasi yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga mudah diakses pengguna sistem informasi.
4.      Telekomunisasi
Komunikasi yang menghubungkan antara penggina sistem dengan sistem computer secara bersama-sama ke dalam suatu jaringan kerja yang efektif.
5.      Manusia
Personel dari sistem informasi, meliputi manajer, analis, programmer, dan operator, serta bertanggung jawab terhadap perawatan sistem.

Fungsi Sistem Informasi
Fungsi dari sistem informasi adalah sebagai berikut:
1.      Mendapatkan, mengumpulkan, mengolah, mendistribusikan dan menyimpan informasi.
2.     Memanage dan menggunakan informasi sebagai pengambilan keputusan.
3.      Memecahkan masalah terstruktur/program bagi kalangan manager,
4.      Pembuatan dan pengolahan laporan, pembedayaan komunikasi aktivitas organisasi.
5.      Kecanggihan sistem, sehingga meniru kecedasan manusia

Sumber:
Satiadarma, M. P. & Zahra, R. P. (2004). Cerdas dengan music.  Jakarta: Puspa Swara.
Hutahean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish.
Al Fatta, H. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: Andi.

http://azkanastiti.blogspot.co.id/2011/10/sistem-informasi-berbasis-komputer-cbis.html

#SIP Etika Menulis Artikel Online

Dalam membuat sebuah tulisan di media cetak ataupun media online, penulis harus memerhatikan banyak hal. Hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah etika penulisan.  Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta dalam Bertens, )etika dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan Kebudayaan dalam Bertens, 2007) etika dijelaskan dengan membedakan 3 arti, yaitu:
1.      Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
2.      Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3.      Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. 
Dalam Hanafia dan Amir (2007), yang dimaksud dengan etika adalah ilmu yang mempelajari asaz akhlak, sedangkan etik adalah seperangkat asas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak seperti dalam kode etik.
Dalam menulis sebuah tulisan online penulis harus menulis berdasarkan kode etik penulisan diantaranya menjunjung tinggi hak, pendapat atau temuan orang lain dan menyadari sepenuhnya untuk tidak melakukan pelangaran ilmiah. Pelanggaran tersebut diantaranya:
1.      Fabrikasi data: mempabrik data atau membuat buat data yang sebenarnya tidak ada atau lebih umumnya membuat data fiktif.
2.      Falsifikasi data: bisa berarti mengubah data sesuai dengan keinginan, terutama agar sesuai dengan simpulan yang ingin diambil dari sebuah penelitian.
3.      Plagiarisme: mengambil kata-kata atau kalimat atau teks orang lain tanpa memberikan acknowledgment (dalam bentuk sitasi) yang secukupnya.
Terdapat 12 butir kesepakatan etika menulis blog yang disepakati sejumlah blogger, yaitu:
1.      Menghargai dan menjunjung tinggi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dengan menghindari plagiarisme, pembajakan, dan selalu mencantumkan sumber setiap kali mengutip karya orang lain.
2.       Tidak mendiskreditkan pihak lain dan selalu berkomitmen untuk menulis secara proporsional.
3.      Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur pornografi.
4.      Selalu berbagi pengetahuan dan kebaikan melalui blog masing-masing.
5.      Tidak berprasangka dan hanya menulis berdasarkan fakta yang diyakini bisa dibuktikan serta tetap dengan menjunjung tinggi etika kesopanan dalam menulis.
6.      Tidak melakukan spamming melalui kolom komentar.
7.      Tetap menjaga kesopanan dan rasa saling menghormati dalam memberikan komentar pada blog yang dikunjungi.
8.       Tidak melakukan hack pada website atau blog lain.
9.      Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur SARA.
10.  Menggunakan bahasa yang baik dalam menulis.
11.  Tetap menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam menulis tetapi tidak melanggar hak-hak orang lain.
12.  Bersedia meralat informasi yang telah ditulis dalam blog jika di kemudian hari terdapat kesalahan dalam memuat tulisan di blog.
Segala penulisan harus dapat dipertanggung jawabkan oleh setiap penulis. Pelanggaran dalam hak cipta telah diatur dalam Undang Undang No. 28 Tahun 2014 mengenai hak cipta.

Sumber:
Bertens, K. (2007).  Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Hanafia, M. J. & Amir, A. (2008). Etika kedokteran & hokum kesehatan. Jakarta: EGC.
Undang Undang No. 28 Tahun 2014 mengenai hak cipta


Kamis, 28 April 2016

Teknik Humanistik: Client-Centered Therapy

Terapi-terapi psikodinamik cenderung memusatkan perhatian pada proses-proses tak sadar, seperti konflik-konflik internal yang terletak di luar kesadaran. Sebaliknya, terapi-terapi humanistic-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistic-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien masa sekarang – “disini dan kini” – dan bukan pada masa lampau. Tetapi, ada juga kesamaan-kesamaan antara terapi-terapi psikodinamik dan terapi-terapi humanistic-eksistensial, yakni kedua-duanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat memengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.
Rogers banyak melakukan riset, antara lain terbitlah bukunya yang lain yang juga sangat terkenal dan memengaruhi pendapat para konselor atau terapis mengenai teknik baru untuk melakukan konseling atau terapi. Hasil pemikirannya tertuang dalam bukunya yang terbit pada tahun 1951 dengan judul Client-centered Therapy: It’s Current Practice, Implication and Theory. 
Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk marawat pasien pasien ini, Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan terhadap ahli terapi. Karena itu disebut “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training).
Dalam pandangan Rogers, gangguan-gangguan piskologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Bila orang-orang lain bersifat selektif dalam menerima perasaan-perasaan dan tingkah laku mereka selama masa kanak-kanak, maka mereka mungkin tidak mengakui bagian-bagian dari diri kita yang tidak disenanginya. Pendekatan humanistic Rogers terhadap terapi – client-centered therapy – membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Rogers menilai terapis tidak boleh mamaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien. Focus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukam terapis yang memimpin dan mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan-perasaannya yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata-kata apa yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

Metode Terapi Person-Centered
Rogers mengemukakan 6 syarat dalam proses terapi person-centered yang harus dipenuhi oleh terapis. Rogers menyatakan bahwa pasien akan mengadakan respon jika:
1.  Terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri
2. Terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk menggerakkan dirinya kea rah kematangan serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan ini dan membuka usaha-usahanya sendiri
3.  Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan juga tidak mengungkapkan apa saja yang diinginkan
4.    Membatasi tingkah laku tetapi bukan sikap
5.  Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi-emosi yang sedang diungkapkan pasien yang mungkin dilakukannya dengan memantulkan kembali dan menjelaskan persaan-perasaan pasien
6.   Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberikan penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan

Client-centered Therapy dipilih karena menarik. Hal yang membuatnya menarik adalah karena focus jalannya terapi ada di klien. Bahkan terapis bukan sebagai pengarah jalannya terapi dan terapis tidak diperbolehkan memaksakan tujuannya pada klien. Selain itu, enam syarat yang dikemukakan oleh Rogers dapat membuat klien lebih merasa nyaman dan bebas mengutarakan semua hal.

Sumber:

Hall, Calvin. S., & Lindzey, G. (1993). Pikologi kepribadian 2 teori-teori holistic (organismik-fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Kamis, 21 April 2016

Kelebihan dan Kekurangan Teori Humanistik

Abraham Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistic. Namun sesungguhnya dia tidak sendiri. Sejumlah rekannya juga memiliki pandangan yang sama dengan dia, antara lain, Erich Fromm, Viktor Frankl dengan ide Logoterapinya, dan Carl Rogers dengan pendapatnya tentang konseling berpusat pada klien. Menurut Maslow, para psikolog meupun psikiater pada saat itu menemukan kesulitan untuk tetap berpedoman pada teori psikologi yang sudah ada untuk menolong pasien-pasiennya, karena teori-teori itu ternyata tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.
Gerakan psikologi humanistic mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Gerakan ini merupakan gerakan psikologi yang merasa tidak puas dengan psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan mencari alternatif psikologi yang fokusnya adalah manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Gerakan ini kemudian dikenal dengan psikologi humanistik.
Graham berpendapat bahwa psikologi humanistik menekankan pengembangan pribadi dan aktualisasi diri sebagai tujuan fundamental manusia. Sementara Bastaman menganggap psikologi humanistic memusatkan perhatian untuk menelaah kualitas insani yang terpatri pada eksistensi manusia sepert daya analisis, imajinasi, kreativitas, aktualisasi diri, dan pengembangan pribadi. Bersasarkan pandang diatas, jelaslah psikologi humanistic bertujuan ‘memanusiakan manusia’ dan percaya akan keunikan setiap individu yang merupakan eksistensi orisinil dirinya yang secara fitrah memiliki potensi untuk berkembang.
Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan

Kelebihan dan Kekurangan Teori Humanistik
a.       Kelebihan
      ·        Konsep aktualisasi diri Maslow masih digunakan sampai 
            dengan saat ini

      ·         Teori Maslow cukup konsisten dengan akal sehat 
             (common sense)

      ·         Teori Maslow berperan sebagai pedoman bagi para praktisi

b.      Kekurangan
      ·           Kurangnya definisi-definisi operasional dari sebagian 
             besar konsep Maslow, maka peneliti tidak dapat membenarkan 
             ataupun menyalahkan banyak hal dari teori dasarnya

      ·          Bahasa yang sulit dimengerti sehingga membuat bagian-
 bagian penting teorinya menjadi ambigu dan tidak konsisten

      ·         Pada pandangan pertama teori ini terlihat cukup sederhana, 
            namun pemahaman menyeluruh memberikan model teori yang 
            lebih rumit


Sumber:

Dewi, R. A. (2006). Menjadi manusia holistic. Jakarta: PT Mizan Publika.
Feist, J. & Fesit, G. J. (2010). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.

Walgito, B. (2004). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Rabu, 30 Maret 2016

Teknik Psikoanalisis: Asosiasi Bebas

Tujuan utama dari terapi psikoanalisis Freud yang berkembang kemudian adalah mengungkapkan ingatan yang direpresi melalui asosiasi bebas dan analisis mimpi. “Terapi kita bekerja dengan cara mengubah apa yang tak disadari menjadi disadari, dan terapi ini berhasil apabila mampu menyebabkan perubahan tersebut. “ (Freud dalam Teori Kepribadian, 2014). Lebih spesifik lagi tujuan psikoanalisis adalah “untuk memperkuat ego, untuk membuatnya mandiri dari super ego, memperluas persepsi, dan mengembangkan organisasinya sehingga ego tersebut dapat mengambil alih id. Dimana ada id, di situ ada ego.” (Freud dalam Teori Kepribadian, 2014).
Melalui asosiasi bebas, pasien diminita untuk mengutaraka isi pikiran yang muncul dalam benaknya, tanpa memangdang apaka pikiran tersebut ada atau todak ada hubungannya ataupun menimbulkan rasa jijik. Tujuan asosiasi bebas adalah untuk sampai ke alam tidak sadar dengan cara mulai dari ide yang disadari saat ini, menelusurinya melalui serangkaian asosiasi, dan mengikuti kemana ide ini pergi. Proses ini tidak mudah dan sejumlah pasien tidak menjalani proses tersebut.
Agar penanganan analis ini berhasil, libido yang semul muncul dalam bentuk gejala-gejala neurotis harus dibebaskan agar dapat melayani ego. Hal ini membutuhkan proses dua tahap.  Pertama, semua libido dipaksa pindah dari gejala transferens dan fokus di situ; kedua, pergulatan diarahkan pada objek ang baru ini dan melakukan proses ini, libido pun terbebaskan.
Situasi transferens ini sangat penting dalam psikoanalisis, transferens mengacu pada persaan seksual atau agresif yang kuat, baik positif atau negatif yang dikebangkan oleh pasien, terutama dengan orangtua mereka, hanya sekedar hanya dialihkan kepada si terapi. Dengan kata lain, perasaan pasien terhadap si terapis sama seperti yang dulu mereka rasakan pada salah satu atau kedua orangtua. Selama perasaan ini berwujud rasa tertarik atau cinta, transferens ini tidak mengganggu proses terapi, tapi justru mendukung kemajuan si pasien. Transferens positif memungkinkan pasien untuk menghidukan kembali pengalaman masa kecil mereka dalam iklim penanganan analitis yang tidak mengancam. Akan tetapi transferens negatif dalam bentuk kebencian perlu dikenali oleh terapis dan dijelaskan kepada pasien agar mereka bisa mengatasi resistensi terhadap penanganan.

Idealnya, ketika penanganan analitis berhasil maka pasien tidak lagi menderita gejala-gejala yang membuatnya terhambat. Mereka bisa menggunakan energi psikis untuk melakukan fungsi-fungsi ego dan mereka berhasil mengembangkan ego yang mencakup pengalaman yang dulunya direpresi. Mereka tidak mengalami perubahan-perubahankepribadian yang berarti, tetapi mereka menjadi seperti apa yang mereka bisa capai dalam kondisi-kondisi yang serba mendukung.

Sumber:
Feist, J. & Feist, G. J., (2014). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.

Kamis, 24 Maret 2016

I. Kelebihan dan Kekurangan Terapi Psikoanalisa

Teori Psikoanalisa

Terapi psikoanalisis dokembangkan freud untuk menjelaskan personality dan perilaku terkait dengan keinginan bawah sadar dan konflik. Personality terdiri dari id) yang mengarahkan individu menuju kenyamanan), ego (yang menengahi antara keinginan internal dan realita) dan super ego (dikembangkan dari standar moral dan social yang ditanamkan oleh orang tua). Pada awal abad ke-20, dua sekolah psikologi didirikan. Pada satu sisi, pengikut Freud, berdampingan dengan pengikut dari Jung dan Adler, yang dipengaruhi oleh Freud menciptakan cabang analitikal dari psikologi pada sisi lain para penganut dari Freud.
Psikoanalisa mulai muncul sebagai metode penyembuhan, dan bukan sebagai teori kepribadian. Setelah itu berkembang menjadi suatu teori komprehensif. Namun demikian sampai kini istilah psikoanalisa masih dipergunakan sebagai teknik pengobatan untuk berbagai jenis penyakit tertentu. Dalam usaha menggunakannya psikoanalisa sebagai terapi, Freud terpikat juga dengan jenis-jenis terapi lainnya. Sehubungan dengan ini Karen Horney mengemukakan bahwa psikoanalisa dilandasi oleh konsep teoritis tertentu. Dalam perkembangannya, psikoanalisa menggantikan “suggestion” dan hypnosis dan menyembuhkan neuroses , yang walaupun menimbulkan kecemasan dari berbagai pihak terhadap cara penyembhan yang dilakukan oleh Freud. Namun demikian, pengaruh freud. Namun demikian pengaruh Freud dalam usaha menyembuhkan neuroses dan gangguan mental lainnya, tetap berkembang dan tampak sekali pada para pengikutnya, seperti Karen Horney dengan New Ways of Psychoanalysis-nya, Erich Fromm dengan The Sane Society-nya.
Freud telah memberikan banyak kontribusi berharga bagi dunia psikologi. Teori-teorinya tetang terapi bawah sadar bertanggung jawab atas pratik terapi yang mendalam dan memakan waktu lama. Dia melihat penyebab-penyebab dari masalah-masalah emosional berakar pada masa kanak-kanak. Bagi freud dan para pengikutnya, penyembuhan bisa dilakukan dengan psikoanalisis. Salah satu dari kasusnya yang paling terkenal adalah kisah Hans. Hans adalah seorang anak yang takut kuda (suatu kasus fobia). Menurut teosi Oedipus Freud, Hans bernafsu terhadap ibunya dan oleh karena itu, ia takut pada ayahnya. Hans percaya, bahwa hanya hukuman yang pantas diterimanya (tentunya labih aman takut pada kuda daripada ayahnya yang tidak dapat dihindari. Dr. freud menamakan proses ini penglihatan.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Psikoanalisa

1. Banyak klaim sentral dalam psikoanalisis yang tidak atau belum terbukti di lapangan atau dalam kenyataan, misalnya ide tentang pengaruh mendasar dari alam pikiran bawah sadar
2. Teori psikoanalisis telah mengonstruksi bahasanya sendiri dalam mengembangkan isi teorinya sehingga sukar bagi kaum awam untuk memahaminya, apalagi mendalaminya
3. Teori psikonalisi selalu bekerja menurut suatu keyakinan apriori bahwa orang selalu berada dalam keadaan tertekan, neurotik, sakit psikis, dan lain sebagainya.
Banyak dari teori psikoanalisa yang masih digunakan sampai saat ini. Karena teori ini yang klasik. Ada banyak sekali terapi psikoanalisa yang dapat digunakan. Namun, dikarenakan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan dibutuhkan perubahan dan penyesuaian dari teori psikoanalisa. Selain itu batasan penyebab masalah psikis yang sempit yang hanya berpusat pada seks dan agresi.


Sumber:
Wright, Susan. (2009). Be your own therapist . Yogyakarta: Percetakan Kanisius.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. (2007). Ilmu dan aplikasi pendidikan. Bandung: PT Imperial Bhakti Utama.
Putra, Y. P. (2010). Rahasia di balik hypnosis ericksonian dan metode pengembangan lainnya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Sutrisno, M & Putranto, H. (2005). Teori-teori kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius Media.

Sabtu, 02 Januari 2016

14. Sikap Pekerja dan Kepuasan Kerja

      A.    Hubungan Pelaksanaan Kerja dan Kepuasan Kerja

Menurut Robbins dan Judge (2007) pekerja yang senang biasanya merupakan pekerja yang produktif, walaupun sulit untuk mengatakan bagaimana kualitasnya berjalan. Bagaimanapun, beberapa penelitian pernah memercayai bahwa relasi antara kepuasan kerja dan kinerja merupakan mitos. Tetapi sebuah review dari 300 studi menyimpulkan bahwa korelasinya cukup kuat. Mulai dari level individu sampai kepada organisasi, juga ditemukan dukungan terhadap relasi kepuasan dengan kinerja. Kriteria kepuasan dan data produktivitas dikumpulkan dari sebuah organisasi,kita akan menemukan bahwa organisasi dengan lebih banyak karyawan yang terpuaskan cenderung lebih efektif daripada organisasi dengan sedikit karyawan yang terpuaskan.
Kepuasan kerja seseorang dipengaruhi oleh banyak factor, tidak hanya gaji, tetapi terkait dengan pekerjaan itu sendiri, dengan factor lain seperti hubungan atasan, rekan kerja, lingkungan kerja dan aturan-aturan

      B.     Mencegah dan Mengatasi Ketidakpuasan Kerja

Greenberg dan Baron (2003) memberikan saran untuk mencegah ketidakpuasan dan meningkatkan kepuasan dengan cara sebagai berikut :
1.      Membuat pekerjaan yang menyenangkan
Bisa dimulai dengan mencari pekerjaan yang memang sesuai dengan minat dan keahlian kita, sebidang dengan apa yang menjadi minat dan bisa menjadi motivasi tersendiri dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut.
2.      Mengadakan program yang mendukung
Perusahaan mengadakan program-program yang dirasakan dapat meningkatkan kepuasan kerja para karyawan, seperti; health center, profit sharing, employee sponsored child care.

Banyak cara untuk mengatasi serta mencegah ketidakpuasaan kerja
1. Karyawan dalam suatu perusahaan maupun institusi merupakan penting artinya bagi kelangsungan dan perkembangan perusahaan tersebut.
2.   Adanya ketidakpuasan kerja yang dialami karyawan, para supervise, manajer, maupun pimpinan harus mempunyai kepekaan terhadap kebutuhan karyawan baik psikologisnya maupun materi yang dapat mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya ketidakpuasan kerja.
3.      Melihat apa saja yang menjadi elemen atau aspek-aspek pendukung dalam sikap kerja

Saat kepuasan karyawan terjamin membuat karyawan semakin produktif karena motivasi yang lebih meningkat. Sebaliknya jika karyawan merasa tidak puas produktivitas akan menurun yang dapat membuat perusahaan rugi.

Sumber:
Hriandja, M.T.E. (2002). Sumber daya manusia. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
library.binus.ac.id/eColls/.../Bab2/2012-1-00556-PS%20bab%202.pdf
http://manajemen-ghania.blogspot.co.id/2010/01/pencegahan-ketidakpuasan-kerja.html
http://www.slideshare.net/mulyonowspd/teori-kepuasan-kerja-kepuasan-kerja